PENERAPAN SISTEM MODUL UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Belajar merupakan proses perubahan yang direncanakan yang meliputi perubahan tingkah laku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan. Perubahan-perubahan tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku sebagai hasil dari proses mengajar.  Dalam belajar perubahan tersebut senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian makin banyak usaha belajar dilakukan makin baik perubahan yang diperoleh.

Usaha untuk mencapai tujuan belajar hendaknya tercipta lingkungan (kondisi) belajar yang lebih kondusif. Lingkungan belajar yang kondusif dalam proses belajar mengajar akan menimbulkan motivasi belajar para peserta didik.

Menurut Sardiman A.M. 2004:84 bahwa ulasan tentang perlunya motivasi dalam belajar. Motivasi inilah yang mendorong mengapa mereka itu melakukan suatu kegiatan/ pekerjaan, begitu juga untuk belajar sangat diperlukan motivasi. Hasil belajar akan menjadi optimal, kalau ada motivasi yang diberikan akan makin berhasil pula pelajaran.

1

 

Sedangkan menurut Keller dalam Abdullah (2005: 4) menyatakan sekurang-kurangnya terdapat empat karakteristik yang nampak pada diri orang yang memiliki motivasi belajar. Yaitu:

(1) senang mengikuti pelajaran untuk mencapai keberhasilan, (2) khawatir akan kegagalan orang yang memiliki motivasi belajar tinggi selalu menetapkan suatu tujuan yang akan dicapainya sehingga dengan demikian ia dapat memprediksi hambatan-hambatan yang dilalui untuk mencapai tujuan belajar, (3) orang yang memiliki motivasi belajar yang tinggi cenderung realistis dalam memilih tugas-tugas yang sesuai dengan kemampuannya, (4) senang berkompetensi. Orang yang memiliki motivasi belajar yang tinggi menyukai suasana belajar di mana persaingan yang sehat dalam rangka mencapai suatu tujuan.

Jadi motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak dalam diri seseorang (siswa) yang menimbulkan kegiatan belajar yang terarah untuk mencapai tujuan.

Mata Diklat Tata Hidang mempelajari tentang, sopan santun dalam pelayanan,  pengenalan alat yang digunakan dalam restoran dan peralatan yang lainnya, cara memasang moulton, taplak meja, macam lipatan serbet/napkin, dan cara menata peralatan makan di atas meja yang sesuai dengan tipe pelayanan dan menu yang dihidangkan. Selain mempelajari penataan meja, juga mempelajari tentang bagaimana melayani tamu atau pelanggan.

Sistem pengajaran dengan modul adalah suatu sistem penyampaian yang telah dipilih dalam usaha pembangunan sistem pendidikan yang lebih efisien, relevan dan efektif. Sehingga prinsip utama dari sistem pengajaran dengan modul adalah peningkatan efisiensi dan efektivitas belajar mengajar di sekolah dalam hal penggunaan waktu, dana, fasilitas dan tenaga secara tepat.

Modul sebagai sistem penyampaian dalam proses belajar mengajar inilah dijadikan tumpuan harapan untuk mampu mengubah keadaan tersebut menjadi situasi belajar mengajar yang merangsang, yang lebih mengaktifkan murid untuk membaca dan belajar memecahkan masalah sendiri di bawah pengawasan dan bimbingan guru daya yang selalu siap menolong murid yang mempunyai kesulitan belajar.

Pengajaran sistem tradisional yang sangat klasikal ialah anggapan bahwa semua anak mempunyai kemampuan dan kecepatan belajar yang sama sehingga dalam waktu yang sama semua murid dianggap akan dapat menyelesaikan volume pelajaran yang sama. Anggapan ini sebenarnya keliru; pada kenyataannya di dalam kelas selalu ada anak yang cepat; anak yang rata-rata dan anak yang lambat dalam mengikut pelajaran.

Hasil observasi yang dilakukan bahwa di SMK Negeri Makassar sudah menggunakan modul khususnya pada mata diklat Tata Hidang tapi fenomena yang terjadi siswa tidak berhasil hal ini ditandai dengan adanya siswa yang tidak memiliki modul  dan banyaknya siswa yang remedial.

Nilai siswa kelas I Hotel dan Restorasi yang dicapai rata-rata cukup baik, tapi ada juga sebagian siswa yang memiliki nilai kurang baik sehingga dilakukan remedial atau pemberian tugas agar nilai siswa memenuhi standar yang sudah ditentukan oleh sekolah. Adapun kriteria penilaian yang digunakan di SMK Negeri 6 Makassar yaitu 9,00 – 10,00 (sangat baik), 8,00 – 8,99 (baik), 7,00 – 7,99 (cukup baik).

Dalam penerapan modul siswa harus termotivasi dan diupayakan memiliki modul dengan demikian proses belajar mengajar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Berdasarkan uraian di atas maka penulis berminat untuk meneliti “Penerapan Sistem Modul Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Diklat Tata Hidang  Kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar”.

  1. B.     Rumusan Masalah

Sehubungan dengan latar belakang yang telah penulis uraikan terlebih dahulu, maka masalah yang dapat dirumuskan adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana motivasi belajar siswa dalam penerapan sistem modul pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi, di SMK Negeri 6 Makassar
  2. Bagaimana penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar.
  3. Faktor-faktor apa yang dapat mendukung dan pendukung penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar.
  1. C.    Tujuan Penelitian  

Adapun tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi, di SMK Negeri 6 Makassar
  2. Untuk mengetahui Bagaimana penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar.
  3. Untuk mengetahui Faktor-faktor yang dapat menghambat dan mendukung penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar.
  4. D.    Manfaat Penelitian
    1. Bagi Mahasiswa: sebagai motivasi untuk dapat lebih giat dan aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran dan dalam menyelesaikan tugasnya sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
    2. Bagi dosen: sebagai pertimbangan untuk dapat menerapkan pengajaran dengan menggunakan modul dalam meningkatkan hasil belajar
    3. Bagi peneliti: sebagai  bahan referensi bagi peneliti selanjutnya, khususnya yang akan mengkaji atau meneliti tentang modul
    4. Bagi sekolah: dapat menerapkan pengajaran dengan menggunakan modul dalam meningkatkan hasil belajar siswa
    5. Bagi masyarakat: sebagai bahan referensi dalam mengkaji tentang penggunaan modul untuk pengembangan penelitian selanjutnya.

 

BAB II


A.   
Tinjauan PustakaTINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

    1. 1.      Motivasi Belajar
  1. a.      Pengertian

Lembaga pendidikan sebagai wadah pembinaan potensi manusia memainkan peranan penting dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Telah dijelaskan bahwa proses peningkatan kualitas sumber daya manusia ini dapat dilihat pada kegiatan yang berlangsung di lembaga pendidikan tersebut. Posisi ini menuju pada suatu tujuan yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

6

 

Zamroni (2002: 19) mengemukakan bahwa persoalan yang kini dihadapi oleh banyak negara, termasuk Indonesia adalah bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan umumnya dikaitkan tinggi rendahnya prestasi yang ditunjukkan dengan kemampuan mendapatkan dan melaksanakan pekerjaan. Kualitas pendidikan ini dianggap penting karena sangat menentukan gerak laju perkembangan di negara manapun juga. Oleh karena itu hampir semua negara di dunia menghadapi tuntutan untuk melaksanakan pembaharuan pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Abrar (1993: 144) bahwa kata motivasi berasal dari kata bahasa latin “movere” kemudian menjadi motion yang artinya gerak atau dorongan untuk bergerak. John M Echols dan Hasan Sadily (1992: 307) juga menyatakan bahwa kata motivasi disebut to move. Yang berarti berpindah, bergerak sedangkan Abin Syamsuddin juga mengemukakan lebih khusus kata motivasi sering disebut intervening variable. Intervening variable adalah proses internal dan psikologis yang dapat diamati dan dinilai.

Jadi motivasi merupakan proses internal dan psikologis menyebabkan hal tersebut tidak dilihat, dirasakan, didengar melainkan dapat juga diduga dari tingkah laku. Hal ini tidak dapat memiliki secara langsung karena motivasi merupakan suatu yang tidak bisa diamati.

Menurut Winskel (1987: 37) bahwa motivasi belajar adalah keseluruhan penggerak psikis adalah diri peserta didik yang menimbulkan tercapainya tujuan. Brata (1993: 235) juga mengemukakan bahwa dorongan atau kekuatan seseorang untuk belajar dapat ditandai dengan (1) adanya sifat ingin tahu, (2) adanya sifat yang kreatif, (3) adanya keinginan untuk mendapatkan simpatik orang tua, guru, dan teman, (4) adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan, (5) adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman.

Kedua hal tersebut dapat disimpulkan bahwa bertapa pentingnya motivasi tersebut disadari oleh pelakunya sendiri. Karena apabila motivasi telah disadari oleh individu, maka segala sesuatu pekerjaan belajar akan diselesaikan dengan baik dalam arti akan mendapatkan hasil yang lebih baik, karena tugas guru dalam kegiatan belajar mengajar adalah mengantarkan siswa berhasil untuk mengetahui tugas tersebut. Guru perlu memahami dan mengetahui bagaimana motivasi belajar siswa.

Motivasi belajar siswa beragam antara satu dengan yang lainnya. Maka pemahaman dan pengetahuan tentang motivasi belajar siswa dan guru akan memberi manfaat antara lain: membangkitkan dan memelihara semangat siswa untuk belajar dan meningkatkanya sampai berhasil, Membangkitkan jika siswa tidak semangat belajar dan meningkatkan jika motivasinya naik turun. Dalam hal ini pujian dan hasil serta dorongan dapat digunakan untuk membangkitkan belajar siswa.

Motivasi sangat menentukan dalam pencapaian tujuan belajar bila siswa termotivasi dalam belajar akan lebih mudah untuk dibina atau diarahkan serta memperbaiki segala kelemahan-kelemahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran.

Bahri (1996: 167-168) menyatakan bahwa ada 6 hal yang perlu dikerjakan oleh guru dalam membangkitkan motivasi belajar anak didik yaitu:

1) Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar, 2) Menjelaskan secara kongkrit kepada anak didik apa yang dilakukan pada akhir pengajaran, 3) Memberi ganjaran terhadap prestasi yang dicapai anak didik sehingga dapat merangsang untuk mendapatkan prestasi yang baik, 4) Membentuk kebiasaan belajar yang baik, 4) Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual, 5) Menggunakan metode yang bervariasi

Motivasi pada dasarnya merupakan suatu keadaan pada diri seseorang yang mengarahkan tingkah laku kepada suatu tujuan tertentu. Jadi motivasi adalah dorongan, keinginan hasrat dan pengganti untuk melakukan sesuatu.

  1. b.      Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar

Setiap siswa mempunyai motivasi untuk melaksanakan kegiatan belajar. Tetapi pada sebagian kita temui ada yang lebih giat melaksanakan daripada yang lain. Di antara dimensi-dimensi terpenting motivasi belajar adalah bagaimana membuat orang cenderung untuk tetap giat belajar.

Menurut Syah (2001: 137) bahwa motivasi dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu: motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah hal dan keadaan yang berasal dari dalam diri siswa sendiri yang mendorongnya melakukan kegiatan belajar sedangkan motivasi ekstrinsik adalah hal dan keadaan yang datang dari luar individu yang juga mendorong untuk melakukan kegiatan belajar, yang termasuk motivasi intrinsik antara lain:

1)       Minat

Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal dan aktivitas, tanpa ada pengaruh dari luar.

2)       Perhatian

Perhatian yang besar terhadap pelajaran akan melahirkan rasa senang dan suka terhadap pelajarannya. Kesenangan dan kesukaan ini merupakan dorongan kuat untuk belajar.

3)        Bakat

Bakat merupakan salah satu potensi yang dapat mempengaruhi keberhasilan seseorang pada suatu aktivitas dan setiap orang memiliki bakat yang berbeda dalam diri berpotensi untuk mencapai hasil ke tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing.

Selain motivasi intrinsik seperti yang dikemukakan di atas, motivasi ekstrinsik juga sangat besar pengaruhnya dalam proses belajar siswa. Yang termasuk dalam motivasi ekstrinsik yaitu:

1)          Keluarga

Keluarga menunjang peranan penting dalam menumbuhkan motivasi belajar siswa sebab keluarga adalah guru pertama dan utama siswa. Siswa berada dalam lingkungan keluarga yang mengutamakan pendidikan maka akan menumbuhkan motivasi belajar yang baik. Faktor keluarga ini terbagi atas beberapa hal yang saling mendukung, yaitu: a) suri tauladan keluarga b) keadaan ekonomi keluarga, c) fasilitas belajar keluarga

2)          Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal di mana siswa melakukan kegiatan proses belajar mengajar dalam waktu tertentu. Dan pada akhirnya pendidikan akan mendapatkan ijazah sebagai hasil belajar.

Faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa di sekolah yaitu: a) suri tauladan, b) metode mengajar, c) fasilitas belajar di sekolah, d) pelajaran di sekolah.

Jadi dengan adanya motivasi sebagaimana disebutkan di atas, maka siswa dapat meningkatkan motivasi belajar sehingga hasil yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan karena belajar mata diklat Tata Hidang dengan menggunakan modul butuh motivasi yang besar untuk mempelajarinya.

  1. 2.      Sistem Modul

Model pembelajaran modul merupakan salah satu metode yang membuka kemungkinan memberikan pengajaran kepada sejumlah besar siswa dan memberi kesempatan bagi pengajaran individual.

  1. a.      Sistem

Menurut Prof. Dr. Oemar Hamalik (2008) istilah sistem adalah alat suatu konsep yang abstrak. Definisi menyatakan bahwa sistem adalah seperangkat komponen atau unsur-unsur yang saling berinteraksi untuk mencapai suatu tujuan.

  1. b.      Modul

Secara umum modul sebagai bahan ajar yang didefinisikan sebagai berikut:

  • Modul merupakan alat atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-batasan, dan evaluasi yang dirancang secara sistematis untuk mencapai kompetensi yang diharapkan.
  • Modul merupakan bahan ajar yang disusun secara sistematis dan menarik yang mencakup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan secara mandiri. (Tim P2SE UNM, 2007)

Menurut Sabri (2007:143) Menyatakan bahwa:

Modul merupakan suatu unit yang lengkap yang terdiri dari rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu siswa mencapai tujuan yang dirumuskan. Dengan kata lain modul itu berupa suatu paket kurikulum yang disediakan untuk belajar sendiri, tanpa kehadiran guru, siswa dapat belajar.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sistem modul merupakan suatu komponen dalam sistem pembelajaran yang merupakan seperangkat bahan ajar yang disusun secara sistematis untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sehingga menjadi tumpuan, harapan untuk mampu mengubah keadaan tersebut menjadi situasi belajar mengajar yang dapat merangsang dan lebih mengaktifkan murid untuk membaca dan belajar memecahkan masalah sendiri di bawah pengawasan guru yang selalu siap menolong murid yang mempunyai kesulitan.

1)      Manfaat Modul

Manfaat modul dapat dilihat dan dikaji dalam beberapa bagian, yaitu:

  • Digunakan secara mandiri, belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing individu secara efektif dan efisien.
  • Memiliki karakteristik stand alone yaitu modul dikembangkan tidak tergantung pada media lain.
  • Bersahabat dengan user atau pemakai membantu kemudahan pemakai untuk direspon atau diakses. (Tim P2SE UNM, 2007)

2)      Tujuan Pembelajaran Modul

Sistem pembelajaran modul dipandang lebih efektif karena pembelajaran modul merupakan salah satu bentuk pembelajaran mandiri yang dapat membimbing siswa untuk belajar sendiri mengenai materi pelajaran.

Tujuan dari pembelajaran modul adalah sebagai berikut:

1) Siswa dapat belajar sesuai dengan cara mereka masing-masing; 2) Siswa mempunyai kesempatan untuk belajar sesuai dengan kecepatan masing-masing; 3) Siswa dapat memilih topik pelajaran yang diminati karena siswa tidak mempunyai pola minat yang sama untuk mencapai tujuan yang sama;    4) Siswa diberi kesempatan untuk mengenal kelebihan dan kekurangannya dan memperbaiki kelemahannya melalui program remedial (Sabri, 2007:144)

Menurut Suryo Subroto (1983:20) mengemukakan bahwa:

“Modul sebagai strategi pengajaran yang memungkinkan siswa belajar sendiri tanpa tergantung kepada tempat dan waktu. Modul dalam arti sistem belajar mengajar yang multi media, dengan demikian akan memungkinkan orang dewasa mengambil program-program yang sesuai dengan keperluan dan kepentingan tanpa harus program yang mengikat”

Dengan kata lain ialah bahwa murid akan jauh lebih efektif dan efisien jika metode pengajaran dan alat-alat belajar diperbaiki. Sehubungan dengan kenyataan tersebut maka Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah menegaskan kepada para pengembang kurikulum untuk merencanakan suatu makna yang menghasilkan pengajaran di kelaslebih baik.

Dalam menggunakan modul murid dapat terhindar dari kegiatan yang tidak berguna, sebuah materi dalam modul serta petunjuk-petunjuk sangat terarah. Selain itu dipilih murid juga belajar menurut kecepatannya  masing-masing tanpa terikat dengan teman-temannya yang kurang motivasi belajarnya terhadap Pelajaran Tata Hidang.

3)      Ciri-Ciri Pengajaran Menggunakan Modul

Ciri lengkap pengajaran menggunakan modul adalah: 1) Modul, 2) pengakuan atas perbedaan-perbedaan individual  pada pengajaran klasikal, 3) memuat rumusan pengajaran secara implisit, 4) adanya asosiasi, struktur umum pengetahuan, 5) penggunaan berbagai macam media. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan sebagai berikut:

Modul merupakan bakat pengajaran yang bersifat self introductional. Paket pengajaran modul menggunakan paket pelajar yang memuat satu konsep atau unit dari bahan pengajaran. Pendekatan dalam pengajaran modul menggunakan pengalaman belajar siswa melalui berbagai macam penginderaan, melalui pengalaman di mana siswa terlibat secara aktif dalam proses  belajar. Siswa diberi kesempatan menurut irama dan kecepatannya masing-masing.

Pengakuan atas perbedaan-perbedaan individual pada pengajaran klasikal, perbedaan-perbedaan individual ini tidak mampu mendapat pelajaran yang semestinya dari guru, pengajaran cenderung bersifat menyamaratakan perbedaan-berkeadaan perorangan yang mempunyai pengaruh penting terhadap hasil belajar yaitu perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, latar belakang akademik dan perbedaan gaya belajar, modul yang bersifat self introductional ini sangat untuk menanggapi kebutuhan dan perbedaan individual siswa.

Memuat Rumusan Pengajaran Secara Implisit. Tiap model memuat tujuan pengajaran secara spesifik dan implisit. Rumusan tujuan yang sangat berguna bagi penyusun modul. Guru dan para siswa untuk mengarahkan mereka dalam proses belajar-mengajar. Tujuannya yang spesifik menentukan medium dan kegiatan belajar yang harus direncanakan untuk mencapai tujuan tersebut, bagi guru rumusan tujuan untuk memahami isi pelajaran dan kegunaannya bagi anak didiknya, sedangkan bagi siswa rumusan tujuan ini penting apa yang diharapkan  kepada mereka tentang tujuan belajar yang harus dikuasai.

Adanya Asosiasi, Struktur Umum Pengetahuan. Proses asosiasi ini terjadi karena dengan menggunakan modul siswa dapat melihat bendanya (tiruannya), mendengar suara guru dan membaca teks serta melihat hal-hal apa yang ada pada buku modulnya.

Penggunaan Berbagai Macam Media (Multi Media). Siswa ini berada dalam kepekaan terhadap berbagai macam media pengajaran.

Pada awal mempelajari modul siswa harus dijelaskan tujuan yang harus dicapai dari ada standar untuk belajar siswa itu. guru harus menggunakan kriteria tes yang memungkinkan dan menentukan dapat tidaknya siswa menguasai modul yang dipelajari. Selain itu juga kriteria tes yang berguna untuk feed back intropeksi bagian-bagian modul yang harus diperbaiki.

4)      Langkah-langkah Penyusunan Modul

Menurut Sabri (2007:144) menyatakan bahwa dalam garis besarnya penyusunan modul atau pengembangan, modul dapat mengikuti langkah-langkah sebagai berikut:

1) Merumuskan tujuan secara jelas dan spesifik dalam bentuk mengamati siswa; 2) Untuk tujuan-tujuan yang menentukan langkah-langkah diikuti dalam modul; 3) Teks diagnotik untuk mengukur pengetahuan dan kemampuan siswa serta latar belakang mereka berbagai prasyarat untuk menempuh modul; 4) Menyusun alasan modul ini bagi siswa;  5) Kegiatan belajar direncanakan untuk membantu dan membimbing siswa dalam mencapai kompetensi-kompetensi dan merumuskan dalam tujuan; 6) Menyusun post test untuk mengukur hasil belajar siswa; 7) Menyiapkan sumber-sumber berupa bacaan yang dibutuhkan siswa.

Model pembelajaran merupakan satuan yang terdiri dari komponen-komponen utama sebagai berikut: 1) Rumusan satuan pengajaran yang eksplisit dan spesifik, 2) Pedoman guru, 3) Lembar kegiatan siswa, 4) Lembar kerja, 5) Kunci lembaran kerja, 6) Lembaran tes, 7) Kunci lembaran tes. Untuk lebih jelasnya hal ini akan diuraikan sebagai berikut:

  1. Rumusan satuan pengajaran yang eksplisit dan spesifik
  2. Pedoman guru

Berisi petunjuk-petunjuk guru agar pengajaran dapat diselenggarakan secara efisien dan juga memberikan penjelasan tentang: macam-macam kegiatan yang harus dilakukan oleh kelas, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul itu, alat-alat pelajaran yang harus digunakan, petunjuk-petunjuk evaluasi.

  1. Lembaran Kegiatan Siswa

Lembaran kegiatan ini memuat materi pelajaran yang harus dikuasai oleh siswa.

  1. Lembar Kerja

Lembar kerja ini menyertai lembar kegiatan siswa, digunakan untuk menjawab atau mengerjakan soal-soal atau tugas-tugas yang harus dipecahkan.

  1. Kunci Lembaran Kerja

Maksud diberikannya kunci lembaran kerja ialah agar siswa dapat mengevaluasi (mengoreksi) sendiri hasil pekerjaannya.

  1. Lembaran Tes

Tiap modul disertai lembaran tes, yakni alat evaluasi yang digunakan sebagai pengukur keberhasilan atau tercapai tidaknya tujuan yang telah dirumuskan dalam model.

  1. Kunci Lembaran Tes

Tes ini disusun oleh penulis modul yang bersangkutan, sehingga tes inipun juga dibuat oleh penulis modul. Gunanya sebagai alat koreksi sendiri terhadap penilaian yang dilaksanakan.

Ada beberapa kelebihan dan kekurangan dalam pengajaran menggunakan modul yaitu:

a)      Kelebihan

Adapun kelebihan pengajaran menggunakan modul adalah: (1) Fleksibilitas, yakni prinsip menyelesaikan perbedaan siswa, (2) Feed back/ balikan yang banyak dan segera sehingga siswa dapat mengetahui taraf hasil belajarnya, (3) Penguasaan materi tuntas artinya siswa belajar tuntas, (4) remedial, memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki kesalahan atau kelemahannya, (5) dapat memotivasi dan saling kerja sama dengan teman-teman yang lain, (6) memberikan pengayaan.

b)      Kelemahan

Siswa harus mengatur waktu, memaksa diri untuk belajar dan kuat terhadap godaan-godaan teman untuk bermain. Para pelajar juga terbiasa menerima pelajaran dari guru, kebanyakan melalui mendengarkan dan cenderung menjadi “pasif” dan akan mengalami kesulitan untuk beralih kepada cara baru yang menuntut aktivitas sebagai dasar utama dalam belajar, menyiapkan modul yang baik manakah waktu yang banyak juga memerlukan keahlian yang cukup.

Pelaksanaan pengajaran modul adalah salah satu sistem utama dari pengajaran adalah tersedianya bahan yang dapat dipelajari sendiri dalam bentuk media tertulis yang memberikan siswa dalam menguasai keterampilan baru dan pengetahuan baru melalui langkah-langkah atau tahap demi tahap.

Dilihat dari segi pelaksanaannya modul menitik beratkan pada aktivitas siswa dan kreativitasnya dalam proses belajar mengajar namun demikian modul tidak dimaksudkan untuk menggantikan fungsi guru melainkan untuk membuat guru menjadi organisator.

  1. 3.      Tata Hidang
  2. a.      Pengertian Tata Hidang

Kehidupan sosial ekonomi dewasa ini, sebagian besar anggota masyarakat terutama di kota-kota besar, lebih banyak menghabiskan waktu melakukan kegiatan sehari-hari di luar rumah sehingga pemenuhan kebutuhan pokok seperti makan dan minum lebih banyak dilakukan di luar rumah. Contohnya di restoran, kantin dan lain- lain.

Agar dapat menarik pelanggan sebanyak mungkin. Para pengusaha makan dan minuman harus meningkatkan mutu. Tetapi apa yang sudah dipaparkan soal peningkatan tersebut di atas belumlah cukup tanpa ditunjang dengan apa yang disebut jasa pelayanan profesional.

Menurut Chaerunnisa (2008) bahwa aktivitas makan sehari-hari bukan hanya sekedar menghabiskan makanan yang tersedia saja, namun di dalamnya berirama dengan etika, budaya dan tradisi. Bahkan aktivitas ini telah menjadi gaya hidup untuk menonjolkan sesuatu dibalik hidangan yang tersaji selain itu keindahan, penataan peralatan makan yang menarik akan menambah selera dalam menikmati sajian atau hidangan yang dihidangkan.

Menurut Jokebet Saludung (2001:8) menyatakan bahwa: hidangan adalah segala sesuatu yang dapat disajikan untuk orang yang akan makan dan minum.

Sedangkan menurut kamus umum Bahasa Indonesia (2006:1217) mengemukakan bahwa: tata adalah aturan; pengaturan dan susunan; cara susunan; tata krama. dan hidang adalah

Jadi dapat disimpulkan bahwa Tata Hidang adalah segala sesuatu yang dapat disajikan dengan cara menyajikan atau menyuguhkan makanan dan minuman serta memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan para tamu atau pelanggan.

  1. b.      Macam-Macam Peralatan

Pengetahuan peralatan yang akan dipergunakan dalam mengoperasikan sebuah hotel atau restoran sangat penting diketahui karena dalam Tata Hidang, peralatan makan, minum dan perlengkapan lainnya sangat mempengaruhi terhadap penataan yang dilakukan sehingga memberi kenyamanan pada waktu menikmati hidangan.

Adapun macam-macam peralatan yang dipergunakan dalam Tata Hidang adalah: peralatan China ware (Show plate, dinner, plate, fish plate dessert plate dan lain-lain) silver ware (macam-macam sendok, pisau, garpu), glass ware (macam-macam gelas), table accompany equipment (asbak, tempat lilin, vas bunga tempat garam dan lada), other equipment (macam-macam baki, alat pemanas), linen (napkin, taplak meja, moulton, slip cloth).

  1. c.       Macam-macam Penataan/Table setting/table set up

Table setting/table set up merupakan komponen fisik restoran, yang mendukung suasana dalam memberikan kesan pertama bagi pelanggan saat memasuki restoran. Table setting/table set up  adalah satu rangkaian kegiatan untuk mengatur dan melengkapi meja dengan peralatan makan sesuai jenis hidangan yang akan disajikan untuk meningkatkan efisiensi kerja pramusaji dan kenyamanan pelanggan.

Secara garis besar Table setting/table set up di restoran ada dua yaitu:

1)      Penataan Meja Makan A’la Carte

Penataan  meja makan A’la carte umumnya dilakukan pada restoran mewah untuk penyajian hidangan makan siang (lunch) atau makan malam (dinner) pada waktu menata meja A’la carte belum tahu hidangan apa saja yang akan dipesan oleh tamu. Oleh karena itu tata peralatan makan dan minum yang standar atau disebut juga (standard A’la carte) adapun alat-alat yang di tata terdiri dari B & B plate, B & B knife, dinner fork, guest napkin, dinner knife astray, flower vase.

2)      Penataan Meja Makan Table D’hote

Menu Table D’hote adalah menu dalam satu paket untuk satu set menu dengan harga tertentu sehingga tamu hanya memilih paket yang akan dipesannya dan peralatan makan sudah di data di atas meja lengkap mulai dari peralatan makan untuk hidangan pembuka (Apperizer) sampai dengan peralatan makan untuk hidangan penutup (dessert) sesuai dengan menu table d’hote yang dihidangkan.

3)      Cara Menyajikan Hidangan

Cara menyajikan hidangan untuk suatu jamuan, dapat dilakukan dengan berbagai cara yang berbeda, antara lain:

a)      Cara tradisional masing-masing daerah.

Pada umumnya hidangan disajikan ditampah, niru, dulang, atau baki besar yang di alas dengan daun pisang, dibentuk dengan berbagai bentuk yang unit sesuai dengan acara yang sedang diselenggarakan, lauk-pauk dapat disajikan bersama dengan nasi istimewa.

b)      Cara Nasional

Secara nasional penyajian hidangan tidak terlalu sulit karena sifatnya umm dan tidak terikat dengan suatu cara tertentu. Alat-alat yang digunakan untuk menyajikan hidangan adalah alat yang sudah umum digunakan, disajikan dengan cara yang umum pula sehingga tidak menyulitkan tamu pada waktu makan atau mengambil makanan. Pada umumnya disajikan di piring-piring penghidang atau chafing dish sehingga dapat dipanaskan agar hidangan tetap hangat.

c)      Cara Internasional

Penyajian secara internasional adalah suatu cara penyajian yang sifatnya lebih modern karena disesuaikan dengan cara penyajian yang berlaku di negara-negara lain, sehingga tamu dari luar negerinya dapat menikmati hidangan dengan sepuas-puasnya sesuai dengan kebiasaan yang berlaku secara internasional di negara.

4)      Macam-Macam Pelayanan

Sistem yang mendasari pelayanan dan selalu dipakai para praktisi dan beberapa hotel diseluruh dunia yaitu:

a)      Table service

-          American service

Sistem ini yang paling praktis dari sistem yang ada, terutama dilihat dari kecepatan pelayanan dan jumlah pramusaji yang lebih

-          Russian service

Jenis pelayanan ini termasuk jamuan makan untuk restoran kelas tinggi  karena peralatan yang digunakan kebanyakan dari bahan yang mahal dan mewah

-          French service/Goeridon service

Pelayana ini sangat istimewa dimana semua jenis hidangan disiapkan (dimasak, dihias), dan disajikan secara demokratif di depan pelanggan atau tamu dengan menggunakan meja yang disebut Goeridon service

-          English service/ 

b)      Buffet Service

Buffet service yang dimaksud adalah tamu melayani diri sendiri dengan mengambil hidangan dari counter yang sudah di tata dengan baik dan menarik.

Jenis service yang lain padang service, lazy susan service Cafetaria,           tray service.

  1. B.     Kerangka Berpikir

Motivasi belajar siswa dengan menggunakan modul merupakan daya di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar itu sendiri terutama pada mata diklat Tata Hidang. Siswa yang memiliki motivasi yang kuat akan mempunyai banyak energi untuk melakukan kegiatan belajar sesulit apapun bayangan tentang mata diklat Tata Hidang namun dengan adanya motivasi dalam diri siswa yang kuat akan semakin memicu semangat belajar siswa.

Tujuan modul dalam proses belajar mengajar adalah agar siswa dapat belajar sesuai dengan cara mereka masing-masing dan mempunyai kesempatan untuk belajar sesuai dengan kecepatannya masing-masing. Dengan adanya modul Tata Hidang yang disusun sedemikian rupa dapat meningkatkan hasil yang memuaskan sesuai apa yang diharapkan oleh siswa maupun guru.


SKEMA KERANGKA BERPIKIR


 

BAB III

METODE PENELITIAN

  1. A.    Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian survei yang sifatnya deskriptif. Sifat penelitian deskriptif adalah memberikan gambaran secara kuantitatif dan kualitatif terhadap permasalahan yang diajukan. Gambaran yang dimaksudkan adalah penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang  kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar.

  1. B.     Variabel dan Desain Penelitian
    1. 1.      Variabel Penelitian

Adapun variabel penelitian pada penelitian ini adalah:

  1. Motivasi belajar
  2. Penerapan Modul
  3. Faktor Pendukung dan Penghambat
    1. 2.      Desain Penelitian


C.   
Definisi Operasional VariabelDesain penelitian ini merupakan survei yang bersifat deskriptif adalah melakukan pengumpulan fakta-fakta untuk memberikan jawaban permasalahan yang telah dirumuskan. Fakta-fakta tersebut yang lebih dahulu disusun dalam bentuk kategori-kategori, kategori yang dimaksud adalah: (1) motivasi belajar siswa (2) penerapan modul (3) faktor-faktor pendukung dan penghambat siswa dalam belajar mata diklat Tata Hidang. Selanjutnya kategori tersebut dihitung secara kuantitatif kemudian dilakukan penarikan kesimpulan.

    1. 1.      Motivasi Belajar  

Motivasi belajar yang dimaksud adalah kecenderungan yang tinggi atau rasa lebih suka dan rasa ketertarikan dalam belajar diklat Tata Hidang.

  1. 2.      Penerapan Modul

Modul yang dimaksud adalah merupakan suatu unit yang dipandang lengkap yang terdiri dari rangkaian kegiatan yang disusun untuk membantu siswa mencapai tujuan yang dirumuskan.

  1. 3.      Faktor pendukung dan penghambat

Faktor pendukung dan penghambat yang dimaksud adalah hal-hal yang mempengaruhi penerapan sistem modul dalam proses belajar mengajar

  1. D.    Populasi dan Sampel
    1. 1.      Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas I Hotel dan Restorasi SMK Negeri 6 Makassar yang terdiri dari 4 kelas dengan jumlah siswa 144 orang. Lebih jelasnya, jumlah populasi penelitian ini, dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel  3.1. Distribusi jumlah populasi penelitian.

No

Kelas

Populasi

1.

2.

3.

4.

I HR 1

I HR 2

I HR 3

I HR 4

36

36

36

36

Jumlah

144

 (Sumber: Data sekolah: 2008)

  1. 2.      Sampel

Adapun teknik sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teknik Random Sampling  (sampel acak). Teknik ini dipergunakan dengan pertimbangan bahwa populasinya dianggap homogen karena memiliki kesamaan diantaranya sama-sama siswa SMK Negeri 6 Makassar, sama-sama duduk di kelas I, dan dalam penelitian ini yang diambil hanya kelas I.

Besarnya sampel yang ditetapkan sebesar 25% dari populasi. Hal ini berpedoman pada pendapat Arikunto (1998:120) bahwa ”jika subyeknya besar (lebih dari 100), dapat diambil 10-15%, atau 20-25%, atau lebih”. Dengan demikian, jumlah sampel dalam penelitian ini sebanyak 36 orang.

Tabel  3.2. Distribusi jumlah sampel penelitian

No

Kelas

Populasi

Sampel

1.

2.

3.

4.

I HR 1

I HR 2

I HR 3

I HR 4

36

36

36

36

9

9

9

9

Jumlah

144

36

  1. E.     Teknik Pengumpulan Data

Adapun instrumen penelitian yang penulis gunakan dalam mengumpulkan data adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Observasi (Pengamatan)

Teknik observasi digunakan untuk mendapatkan informasi yang dilakukan dengan cara mengamati proses pembelajaran Tata Hidang di SMK Negeri 6 Makassar. Metode ini digunakan untuk mengetahui secara langsung motivasi belajar siswa dengan menggunakan sistem modul.

  1. 2.      Angket

Sanapiah Faisal (2003:122) mengemukakan bahwa, angket adalah suatu alat pengumpulan data berisi daftar pertanyaan secara tertulis yang ditujukan kepada subyek atau responden penelitian. Penulis menggunakan angket yang akan didistribusikan khusus untuk siswa kelas I Hotel dan Restorasi SMK Negeri 6 Makassar untuk memperoleh data mengenai peningkatan motivasi belajar siswa dengan menggunakan modul pada mata diklat Tata Hidang. Adapun model angket yang disusun adalah angket tertutup sehingga responden hanya memiliki pilihan jawaban yang telah disediakan, dan setiap pertanyaan dilengkapi 4 pilihan jawaban yaitu a, b, c dan d. Untuk kepentingan analisis data, maka pilihan jawaban tersebut diberi bobot dengan menggunakan skala Likert (Sugiyono 2006:107), yaitu:

  1. Untuk jawaban (a) skornya 4
  2. Untuk jawaban (b) skornya 3
  3. Untuk jawaban (c) skornya 2
  4. Untuk jawaban (d) skornya 1
  5. F.     Teknik Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dengan menggunakan persentase yang dikemukakan oleh Arif Tiro (2004: 242).

P    =   x 100%

Di mana:

P = Persentase yang dicapai

F = Frekuensi

N = Jumlah sampel

Keterangan rumus:

Persentase adalah besarnya persentase yang diperoleh setiap alternatif jawaban.

Frekuensi adalah banyaknya individu yang menjawab pada alternatif jawaban.

Jumlah sampel adalah banyaknya individu yang menjadi sampel.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.    Hasil Penelitian

Untuk memudahkan pemahaman pembaca terhadap hasil analisis data yang diperoleh dari lembar angket yang dibagikan terkait dengan upaya melihat gambaran penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa mata diklat Tata Hidang sebagaimana dimaksudkan dalam penelitian ini maka data yang disajikan dalam tabel frekuensi.

Selanjutnya, seluruh aspek penilaian terhadap penerapan sistem modul pada responden dalam bentuk tabel disajikan sesuai urutan pertanyaan/pertanyaan pada lembaran angket dijelaskan secara naratif sebagai berikut:

  1. 1.      Deskripsi Angket
  2. Gambaran motivasi belajar siswa dalam penerapan sistem modul pada mata diklat Tata Hidang.

Tabel 4.1 Kesenangan Mengikuti Pelajaran Tata Hidang

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Senang

Senang

Kurang Senang

Tidak Senang

16

20

0

0

64

60

0

0

44

66

0

0

Total

36

124

100

Berdasarkan informasi pada tabel 4.1 di atas dapat diketahui bahwa responden yang merasa sangat senang terhadap pelajaran Tata Hidang dengan menggunakan modul terdiri dari 16 responden atau 44 %, senang 20 responden atau 56 % sedangkan responden yang kurang senang dan tidak senang tidak ada.(Sumber: Hasil oleh data, 2008)

Dapat disimpulkan bahwa dari aspek rasa senang terhadap mata diklat Tata Hidang dengan menggunakan persentase tertinggi yang dicapai adalah senang dengan jumlah 56 % artinya lebih dari separuh siswa/responden sering mengikuti mata diklat Tata Hidang dengan menggunakan modul.

Tabel. 4.2 Antusias Mengikuti Pelajaran

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Antusias

Antusias

Kurang Antusias

Tidak Antusias

7

25

4

0

28

75

8

0

20

69

11

0

Total

36

111

100

(Sumber: Hasil Olah Data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.2 di atas, dapat diketahui bahwa antusias siswa/responden mengikuti pelajaran Tata Hidang terdiri dari sangat antusias sejumlah 7 responden atau 20 %, antusias 25 responden atau 69 % sedangkan responden yang kurang antusias 4 atau 11 % dan responden yang tidak antusias 4 atau 11 % dan responden yang tidak antusias tidak ada.

Dapat disimpulkan bahwa antusias, responden dalam mengikuti pelajaran Tata Hidang dapat dikatakan antusias karena persentase tertinggi yang dicapai adalah antusias dengan jumlah 25 atau 69 % responden artinya lebih dari separuh siswa/responden antusias untuk mengikuti pelajaran Tata Hidang.

Tabel 4.3 Motivasi Belajar Menggunakan Modul

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Termotivasi

Termotivasi

Kurang Termotivasi

Tidak Termotivasi

10

21

4

1

40

63

8

1

20

69

11

0

Total

36

112

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.3 di atas, dapat diketahui bahwa siswa/responden yang sangat termotivasi terhadap belajar menggunakan modul terdiri dari 10 responden atau 28 %, termotivasi 21 responden atau 58 %, sedangkan responden kurang senang sejumlah 4 atau 11 % dan 1 responden atau 3 % tidak termotivasi belajar menggunakan modul.

Dari aspek motivasi belajar menggunakan modul, persentase tertinggi yang capai adalah 58 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bawah responden termotivasi apabila belajar dengan menggunakan modul.

Tabel 4.4 Kesenangan Terhadap Tugas yang Diberikan

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Senang

Senang

Kurang Senang

Tidak Senang

10

21

5

0

40

63

10

0

28

58

14

0

Total

36

113

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.4 di atas, dapat diketahui bahwa rasa senang responden terhadap tugas yang ada pada modul yang diberikan oleh guru terdiri dari sangat senang sebanyak 10 responden atau 28 %, senang dan sebanyak 5 orang atau 14 % dengan pemberian tugas yang ada pada modul.

Dari aspek rasa senang dengan pemberian tugas yang ada pada modul, persentase tertinggi yang dicapai adalah senang dengan jumlah 58 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden senang apabila diberikan tugas yang ada pada modul.

Tabel 4.5 Perasaan jika Tidak dapat Mengikuti Mata Diklat Tata Hidang

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Senang

Senang

Kurang Senang

Tidak Senang

1

3

10

22

4

9

20

22

28

58

14

0

Total

36

55

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.5 di atas, dapat diketahui bahwa responden tidak senang jika tidak dapat mengikuti pelajaran terdiri dari 22 responden atau 61 %, kurang senang 10 responden atau 28 %, sedangkan senang 3 responden 8 % dan sangat senang 1 responden atau 3 %.

Dari aspek perasaan jika tidak mengikuti pelajaran persentase tertinggi yang dicapai adalah tidak senang dengan jumlah 61 % dari jumlah responden. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden tidak senang jika tidak mengikuti pelajaran Tata Hidang.

Tabel 4.6 Variasi yang Ada Pada Isi Modul

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Setuju

Setuju

Kurang Setuju

Tidak Setuju

19

16

0

1

76

48

0

1

53

44

0

3

Total

36

125

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.6 di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan variasi yang ada pada isi modul sangat setuju sebanyak 19 responden atau 53 %, setuju 16 responden atau 44 % sedangkan kurang setuju tidak ada dan tidak setuju 1 responden atau 3 %.

Dari aspek ini dapat disimpulkan bahwa variasi-variasi yang ada pada isi modul, siswa/responden sangat setuju dengan persentase tertinggi sebanyak 53 % artinya lebih dari separuh responden setuju dengan variasi yang ada pada isi modul.

Tabel 4.7 Pemberian Pujian pada Saat Menjawab Pertanyaan

 Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Sekali

Sekali

Kurang Sekali

Tidak Sekali

3

21

7

5

12

63

14

5

8

58

20

14

Total

36

94

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.7 di atas, dapat diketahui bahwa guru sering sekali memberikan pujian pada saat menjawab pertanyaan dengan benar sebanyak 3 responden atau 8 %, senang 21 responden atau 58 %, sedangkan kadang-kadang 7 siswa/responden atau 20 % dan tidak sering 5 responden atau 14 %.

Dari aspek ini pemberian pujian pada saat menjawab pertanyaan persentase tertinggi yang dicapai adalah 58 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden sering diberikan pujian pada saat menjawab pertanyaan.

  1. Penerapan Sistem Modul pada Mata Diklat Tata Hidang.

Tabel 4.8 Keefektifan Belajar Menggunakan Modul

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Efektif

Efektif

Kurang Efektif

Tidak Efektif

10

25

1

0

40

75

2

0

53

44

0

3

Total

36

117

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.8 di atas, dapat diketahui bahwa siswa atau responden yang menyatakan sangat efektif cara belajar dengan menggunakan modul dibanding dengan cara yang lain sebanyak 10 siswa/responden atau 28 %, Efektif 25 responden atau 69 % sedangkan kurang efektif 1 responden atau 3 % dan tidak efektif tidak ada responden yang memilih.

Dari aspek efektif belajar dengan menggunakan modul dibanding cara lain persentase tertinggi yang dicapai sebanyak 69 % dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden belajar dengan menggunakan modul efektif dibanding cara lain.

Tabel 4.9 Memahami Pelajaran yang Disajikan dalam Modul

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Memahami

Memahami

Kurang Memahami

Tidak Memahami

7

26

3

0

28

78

6

0

20

72

8

0

Total

36

112

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.9 di atas, dapat diketahui bahwa responden sangat memahami pelajaran yang disajikan dalam modul sebanyak 7 responden atau 20 %, memahami 26 responden atau 72 %, sedangkan yang kurang memahami 3 responden atau 8 % dan yang tidak memahami tidak ada.

Dari aspek memahami pelajaran yang disajikan dalam modul persentase tertinggi yang dicapai adalah memahami dengan jumlah 72 %. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa responden memahami pelajaran yang disajikan dalam modul

Tabel 4.10 Mencatat Pokok Materi Pelajaran

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Sering

Sering

Kurang Sering

Tidak Sering

8

17

9

2

32

51

18

2

22

47

25

6

Total

36

103

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.10 di atas, dapat diketahui bahwa responden sangat sering mencatat pokok materi pelajaran terdiri dari 8 responden atau 22 % sering mencatat 17 responden atau 47 % dan kurang mencatat 18 responden atau 25 %, 2 responden atau 6 % yang tidak mencatat.

Dari aspek ini persentase tertinggi yang dicapai adalah sering mencatat sebanyak 47 % artinya lebih dari sepuluh siswa respon sering mencatat pokok materi pelajaran.

Tabel 4.11 Penerapan Modul

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Membatu

Membantu

Kurang Membantu

Tidak Membantu

16

20

0

0

64

60

0

0

53

44

0

3

Total

36

125

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.11 di atas, dapat diketahui bahwa modul di sekolah sangat membantu dalam menguasai pelajaran, terdiri dari 16 responden atau 44 %, membantu 20 responden atau 56 % sedangkan kurang membantu dan tidak membantu tidak ada.

Dari aspek penerapan modul di sekolah dapat membantu dalam menguasai pelajaran dengan persentase tertinggi 56 % responden. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa responden menyatakan penerapan modul di sekolah dapat membantu dalam menguasai pelajaran.

Tabel 4.12 Manfaat Modul Tata Hidang dalam Proses Belajar Mengajar

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Bermanfaat

Bermanfaat

Kurang Bermanfaat

Tidak Bermanfaat

21

15

0

0

84

45

0

0

58

42

0

0

Total

36

129

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.12 di atas, dapat diketahui bahwa responden menyatakan modul Tata Hidang sangat bermanfaat dalam proses belajar mengajar sebanyak 21 responden atau 58 %, membantu 15 responden atau 42 %, kurang bermanfaat dan tidak bermanfaat tidak ada.

Dari aspek ini persentase tertinggi yang dicapai adalah sangat bermanfaat 58 %. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa responden menyatakan sangat bermanfaat modul Tata Hidang dalam proses belajar mengajar artinya lebih dari sepuluh responden menyatakan sangat bermanfaat modul Tata Hidang dalam proses belajar mengajar.

Tabel 4.13 Metode Mengajar Guru

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Menarik

Menarik

Kurang Menarik

Tidak Menarik

10

23

3

0

40

69

6

0

28

64

8

0

Total

36

115

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.13 di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan metode mengajar guru sangat menarik terdiri dari 10 responden atau 28 %, menarik 23 responden atau 64 %, kurang menarik 3 responden atau 8 % dan tidak menarik tidak ada.

Dari aspek ini dapat disimpulkan bahwa metode mengajar sangat menarik dengan persentase tertinggi 64 % artinya lebih dari separuh responden menyatakan menarik dengan metode mengajar guru mata diklat Tata Hidang.

  1. Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Sistem Modul

Tabel 4.14 Guru Membantu Kesulitan Siswa dalam Belajar

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Membantu

Membantu

Kurang Membantu

Tidak Membantu

16

17

2

1

64

21

4

1

44

47

6

3

Total

36

90

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.14 di atas, dapat diketahui bahwa responden menyatakan guru sangat membantu kesulitan siswa dalam belajar mata diklat Tata Hidang dengan menggunakan modul mencapai 16 responden atau 44 %, membantu kesulitan siswa 17 responden atau 47 %, kurang membantu kesulitan siswa 2 responden atau 6 % sedangkan 1 responden atau 3 % menyatakan tidak membantu kesulitan siswa.

Tingginya persentase responden yang menyatakan guru membantu kesulitan belajar siswa dengan menggunakan modul sebanyak 47 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa seseorang guru harus memperhatikan kesulitan. Belajar yang dialami siswa ini adalah bentuk kepedulian guru dari mencapai tujuan.

Tabel 4.15 Situasi Ruangan Belajar/Kelas

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Berpengaruh

Berpengaruh

Kurang Berpengaruh

Tidak Berpengaruh

9

21

1

5

36

63

2

5

25

58

3

14

Total

36

106

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.15 di atas, dapat diketahui bahwa persentase yang dicapai terhadap pernyataan keadaan dari situasi ruangan belajar sangat berpengaruh terhadap aktivitas belajar terdiri dari 9 responden 25 %, berpengaruh 21 responden 58 %, kurang berpengaruh 1 responden atau 3 %, sedangkan tidak berpengaruh terhadap keadaan dan situasi ruangan belajar sebanyak 5 responden atau 14 %.

Tingginya persentase responden yang menyatakan pengaruh sebanyak 58 % dengan keadaan dan situasi ruangan belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dengan keadaan dan situasi kelas yang kurang nyaman dapat berpengaruh pada proses belajar siswa.

Tabel 4.16 Ketersediaan Buku di Perpustakakan

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Membantu

Membantu

Kurang Membantu

Tidak Membantu

11

18

4

3

44

34

8

3

31

50

11

8

Total

36

109

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.16 di atas, dapat diketahui bahwa persentase tertinggi yang dicapai dengan pernyataan ketersediaan buku-buku di perpustakaan sangat membantu dalam belajar Tata Hidang dengan menggunakan modul terdiri dari 11 responden atau 31 %, 18 responden atau 50 % menyatakan ketersediaan buku-buku yang terdapat di perpustakaan membantu dalam belajar Tata Hidang, 4 responden atau 1 % menyatakan kurang membantu dan 3 responden atau 8 % menyatakan tidak membantu dalam belajar Tata Hidang.

Tingginya persentase menyatakan ketersediaan buku-buku di perpustakaan sekolah dalam belajar Tata Hidang dengan menggunakan modul.

Tabel 4.17 Meminta Pendapat Teman Tentang Pelajaran Tata Hidang

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Sering

Sering

Kurang Sering

Tidak Sering

6

20

10

0

24

60

20

0

16

56

28

0

Total

36

104

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.17 di atas, dapat diketahui bahwa responden yang selalu meminta pendapat teman tentang pelajaran Tata Hidang sebanyak 6 responden atau 16 %, sering meminta pendapat teman 20 responden atau 56 %, dan kadang-kadang meminta pendapat teman 10 responden atau 28 %, sedangkan responden tidak sering meminta pendapat teman tidak ada.

Dari aspek ini dapat disimpulkan bahwa responden sering meminta pendapat teman tentang pelajaran Tata Hidang dengan persentase tertinggi mencapai sebanyak 56 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa responden sering meminta pendapat teman tentang pelajaran Tata Hidang.

Tabel 4.18 Harga Modul yang Ditetapkan

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Setuju

Setuju

Kurang Setuju

Tidak Setuju

8

25

3

0

32

75

6

0

22

70

8

0

Total

36

113

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.18 di atas, dapat diketahui bahwa responden sangat setuju dengan harga modul yang telah ditetapkan oleh guru yang terdiri 8 responden atau 22 %, setuju 25 responden atau 70 %, yang kurang setuju 3 responden atau 8 % dan yang tidak setuju dengan harga modul tidak ada.

Dapat disimpulkan bahwa harga modul yang telah ditentukan oleh guru responden setuju karena persentase tertinggi yang dicapai sebanyak 70 %.

Tabel 4.19 Keadaan Lingkungan Sekolah

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Berisik

Berisik

Kurang Berisik

Tidak Berisik

1

13

14

8

4

39

28

8

3

36

39

22

Total

36

79

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.19 di atas, dapat diketahui bahwa responden yang menyatakan lingkungan sekolah sangat berisik terdiri 1 responden atau 3 %, berisik 13 responden atau 36%, kurang berisik 14 responden atau 39 % dan yang menyatakan tidak berisik 8 responden atau 22 %.

Dari aspek ini dapat disimpulkan bahwa lingkungan sekolah kurang berisik adalah persentase yang tertinggi yaitu 39 % artinya kurang dari separuh responden menyatakan sekolah kurang berisik

Tabel 4.18 Penyusunan Materi dalam Modul Tata Hidang

Nilai

Jawaban/ pertanyaan

Frekuensi

Jumlah

(Nilai x Frekuensi)

%

Huruf

Angka

A

B

C

D

4

3

2

1

Sangat Sesuai

Sesuai

Kurang Sesuai

Tidak Sesuai

13

22

1

0

52

66

2

0

36

61

3

0

Total

36

120

100

(Sumber: Hasil Olah data, 2008)

Berdasarkan informasi pada tabel 4.20 di atas dapat diketahui bahwa responden menyatakan bahwa penyusunan materi dalam modul Tata Hidang sangat sesuai dengan penjelasan guru sebanyak 13 responden atau 36 %, yang menyatakan sesuai 22 responden atau 61 %, kurang sesuai 1 responden atau 3 % dan tidak sesuai tidak ada.

Tingginya persentase responden yang menyatakan bahwa susunan materi yang ada pada modul sudah sesuai dengan penjelasan guru sebanyak 61 %.


  1. B.     Pembahasan

Berdasarkan pada hasil penelitian yang diperoleh dari tabel yang disajikan, maka penulis akan membahas dan menguraikan aspek-aspek atau butir pertanyaan  pada angket.

Perlu diketahui bahwa berdasarkan desain penelitian dan merumuskan masalah yang diajukan , butir pertanyaan yang ada pada angket dikelompokkan menjadi tiga bagian  yaitu (1)  pertanyaan yang termasuk dalam kelompok motivasi belajar siswa terhadap mata Diklat Tata Hidang dengan menggunakan sistem modul terdiri dari pertanyaan nomor 1 – 7, (2) pertanyaan yang termasuk Penerapan sistem modul pada mata Diklat Tata Hidang terdiri dari pertanyaan nomor 8 – 14, dan (3) pertanyaan yang termasuk faktor-faktor pendukung dan penghambat penerapan sistem modul pada mata diklat Tata Hidang terdiri dari pertanyaan nomor 15 – 20.

  1. 1.      Motivasi Belajar Siswa dalam Penerapan Sistem Modul Mata Diklat Tata Hidang

Hasil penelitian data mengenai motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang di SMK Negeri 6 Makassar yang telah diuraikan di atas menunjukkan bahwa secara umum dari 36 siswa yang menjadi responden penelitian, jumlah siswa yang termotivasi atau senang mengikuti pelajaran Tata Hidang sebanyak 20 orang dan 16 orang sangat senang. Artinya lebih dari separuh siswa/responden senang atau termotivasi dalam mengikuti pelajaran Tata Hidang. Hal ini ditunjang dengan adanya modul, serta pemberian tugas oleh guru.

Dari aspek variasi yang ada pada isi modul yang sangat setuju sebanyak 19 responden atau 53 % dengan demikian hal ini menunjukkan bahwa siswa sangat tertarik dengan variasi yang ada pada isi modul sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dengan menggunakan sistem modul.

Dari aspek pemberian pujian atau penguatan jika siswa menjawab pertanyaan dengan benar terdiri dari 21 responden atau 58 % yang sering diberikan pujian atau penguatan. Hal ini sangat berpengaruh terhadap tingkat motivasi siswa untuk belajar Tata Hidang. Jadi pemberian pujian atau penguatan penting dalam proses belajar mengajar.

Jika dengan adanya motivasi inilah yang mendorong siswa untuk melakukan suatu kegiatan, pekerjaan terutama belajar dengan menggunakan modul sehingga hasil belajar akan menjadi optimal setuju dengan apa yang diharapkan.

  1. 2.      Penerapan Sistem Modul pada Mata Diklat Tata Hidang.

Penerapan sistem modul aspek di SMK Negeri 6 Makassar dilihat dari hasil angket sudah bagus sehingga siswa termotivasi untuk belajar, untuk lebih jelasnya akan diurutkan di bawah ini.

Dari aspek cara belajar menggunakan modul lebih efektif dibanding cara lain 25 responden atau 69 % menyatakan sudah efektif karena dengan cara belajar dengan menggunakan siswa lebih leluasa belajar tanpa ketergantungan dengan dan penjelasan guru. Dari aspek ini sangat berhubungan dengan pertanyaan nomor 12.

Dari aspek memahami bahan pelajaran yang disajikan dalam modul sangat berhubungan dengan pertanyaan Nomor 9 – 14, karena kebanyakan responden menyatakan bahwa dengan penerapan sistem modul bagus di mana siswa dapat memahami bahan pelajaran yang disajikan dalam modul dengan mudah selain itu siswa juga mencatat pokok materi saat belajar sehingga dapat membantu dalam menguasai pelajaran dan guru membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan modul namun semua itu tidak lepas dari cara atau metode mengajar guru pada mata diklat Tata Hidang.

  1. 3.      Faktor Pendukung dan Penghambat dalam penerapan sistem Modul

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi setiap manusia terutama negara yang sedang dalam proses pembangunan dan berkembang. Dalam dunia pendidikan sebagaimana diketahui bahwa masih banyak keterbatasan-keterbatasan atau penyebab rendahnya motivasi siswa untuk belajar.

Faktor-faktor yang sangat mempengaruhi dan penerapan siswa modul secara garis besar yaitu faktor intern (dalam diri siswa) dan ekstern (lingkungan luar, termasuk guru).

Untuk mengetahui faktor pendukung atau penghambat dalam penerapan sistem modul pada mata Diklat Tata Hidang pada siswa SMK Negeri 6 Makassar,  sebagaimana dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Faktor Pendukung

Faktor pendukung adalah hal-hal yang cukup menunjang dalam pelaksanaan penerapan sistem modul mata diklat Tata Hidang pada siswa SMK Negeri 6 Makassar, baik itu dari Guru sebagai pendidik maupun siswa sebagai pendidik yaitu:

(a)    Siswa meminta pendapat kepada teman

(b)   Ketersediaan buku-buku di perpustakaan

(c)     Susunan materi yang ada pada modul

  1. Faktor Penghambat

Faktor penghambat dalam proses penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang yang berasal dari luar (faktor eksternal) yaitu:

(a)    Lingkungan sekolah yang ramai dan berisik

(b)   Keadaan dan situasi ruangan tempat belajar harus nyaman

(c)    Harga modul

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam penerapan sistem modul sangat berkaitan dengan faktor eksternal yang berasal dari luar siswa sebagaimana disebutkan di atas

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. A.    Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang dilakukan terkait dengan penerapan sistem modul untuk meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata diklat Tata Hidang kelas I Hotel dan Restorasi di SMK Negeri 6 Makassar maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Siswa SMK Negeri 6 Makassar khususnya siswa kelas I Hotel dan Restorasi termotivasi untuk belajar Tata Hidang terutama dalam menggunakan sistem modul. Tingginya motivasi belajar siswa berdasarkan penyimpulan pengelompokan butir angket nomor 1 – 7
  2. Penerapan sistem modul pada mata diklat Tata Hidang di SMK Negeri 6 Makassar sebagaimana butir  angket 8 – 14 menyatakan bahwa penerapan sistem modul efektif dan siswa memahami pelajaran yang disajikan kemudian mencatat pokok materi saat belajar hal ini tidak lepas dari metode atau cara mengajar guru selain itu guru juga membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam menggunakan modul.
  3. Faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan sistem modul pada mata diklat Tata Hidang sebagaimana butir angket 15 – 20 menunjukkan bahwa ada dua faktor yaitu a) Faktor pendukung meliputi siswa meminta pendapat kepada teman, ketersediaan buku-buku di perpustakaan. Susunan materi yang ada di modul b) Faktor penghambat meliputi: Lingkungan yang ramai dan berisik, keadaan situasi ruangan tempat belajar harus nyaman, harga modul tidak terlalu mahal sehingga dapat memilikinya.
  1. B.     Saran

Berdasarkan dari hasil penelitian dan pembahasan maka diajukan beberapa saran dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan antara lain

  1. Guru mata pelajaran sudah selayak-layaknya mendesain pembelajaran Tata Hidang sedemikian rupa sehingga dapat lebih memotivasi siswa untuk belajar menggunakan modul.
  2. Pihak sekolah harus menciptakan kondisi atau lingkungan sekolah yang aman serta ruang belajar yang nyaman sehingga aktivitas belajar siswa tak terganggu.


DAFTAR PUSTAKA
Abrar, Abdurrahman. 1993. Psikologi Pendidikan. Yogya: PT. Tiara Wacana.

Abdullah. 2005. Motivasi Belajar Siswa SD Inpres Bontomanai Kelurahan Mangasa Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Skripsi. UIN.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis. Jakarta: Bina Aksara

 

A.M. Sardiman. 2004. Interaksi Dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Brata, Surya. 1993. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo

Chaerunnisa. 2008. Menghadirkan Table Setting Yang Glamor. http://lifestyle-okezone.com. Diakses pada 15 September 2008

Djamarah, Syaipul Bahri. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar. 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

Jokebet. Salubung. 2001. Modul Tata Hidang II. Makassar: FT UNM

Muhibbin Syah. 2001. Psikologi Pendidikan dengan pendekatan Baru. Bandung: Rosda.

Poerwadarminta. 2006. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Saniah,Faisal. 2003. Format-Format Penelitian Sosial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

Subroto, Suryo. 1983. Sistem Pengajaran dengan Modul. Yogyakarta: PT. Bina Aksara.

Sugiono. 2006. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: CV. Alphabeta

Tim Pengembang Sekolah Unggulan UNM. 2007. Modul Sebagai Bahan Ajar. Makassar: P2SE.

Tiro, Arif. 2004. Dasar-Dasar Statistika. Makassar: Badan Penerbit UNM

Winskel, W.S. 1987. Psikologi dan Evaluasi Belajar. Jakarta: Gramedia.

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s